Category: Pendidikan

Maraknya Anak SD Pegang HP, Orang Tua Harus Waspada

Murid-murid SD Inpres di Sentani, kabupaten Jayapura, saat menikmati waktu istirahat di sekolah – Dok Jubi.

 

Sentani,  – Kepala sekolah dasar (SD) Inpres Komba Sentani, Agustina Sokoy, mengimbau terkait maraknya penggunaan HP pada anak usia sekolah dasar (SD), seharusnya anak ada dalam kontrol orang tua. Namun yang terjadi selama ini pengawasan orang tua praktis tidak ada.

“Dalam sosialisasi pendidkan karakter anak, yang boleh pegang HP anak usia 14 tahun keatas. Anak dibawah 14 tahun belum boleh pegang HP. Sekarang yang terjadi, anak belum cukup umur, ulang tahun diberi hadiah HP sama orang tuanya. Anak kelas 5 SD dibiarkan pegang HP,” kata Agustina Sokoy, dikabarkan Jubi, Rabu (1/11/2017).

Baca lebih lanjut

Iklan

Mahasiswa Uncen Minta Rektor Cabut Larangan Aksi

Ketua BEM Uncen Jayapura, Donny Donatus Gobai sedang berorasi di depan gapura Uncen Waena, Senin (19/10) - Jubi/Abeth You

Ketua BEM Uncen Jayapura, Donny Donatus Gobai sedang berorasi di depan gapura Uncen Waena, Senin (19/10) – Jubi/Abeth You

Jayapura, – Ratusan mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) menolak pernyataan Rektor Ones Sahuleka yang melarang aksi pemalangan kampus.

Mereka bergantian berorasi di bawah teriknya matahari di depan Gapura Uncen, Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Senin (19/10/2015) untuk meminta pihak rektorat agar segera mencabut penolakan itu, sebab menurut mereka adalah penolakan itu justru mematikan daya belajar dalam sebuah demokrasi.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uncen Jayapura, Donny Donatus Gobai mengatakan, pihaknya mendukung atas aksi yang dilakukan rekan-rekannya itu.

“Kami sepakat dengan agenda yang didorong itu. Karena mahasiswa adalah garda terdepan dari demokrasi. Sehingga tidak perlu dibatasti,” ujar Donny Donatus Gobai kepada Jubi di Waena, Kota Jayapura, Senin (19/10/2015).

Menurut Gobai, pihaknya mengharapkan kepada pihak rektorat agar segera menyediakan mimbar ilmiah agar menjadi tempat mahasiswa untuk menyalurkan.

Di tempat yang sama, Rektor Uncen Jayapura, Onesimus Sahuleka mengaku, pihaknya akan melakukan pertemuan dengan para mahasiswa.

“Kami sepakat atas pencabutan ini. Tapi, akan menyediakan pertemuan dalam minggu ini. Setelah itu barulah kita putuskan keseputusannya,” tutur Onesimus Sahuleka. (Abeth You)

Sumber : http://www.tabloidjubi.com

Era Globalisasi: Kaum Muda Diminta Pertahankan Nilai dan Fungsi Noken Papua

Perempuan Papua Peduli Noken. Tampak pemateri Ice Adii (tengah belakang) dengan pakaian batik Papua warna emas kombinasi hijau berpose usai seminar. Foto: Isline Tabuni

Perempuan Papua Peduli Noken. Tampak pemateri Ice Adii (tengah belakang) dengan pakaian batik Papua warna emas kombinasi hijau berpose usai seminar. Foto: Isline Tabuni

 

Yogyakarta, MAJALAH SELANGKAH — Pergeseran terhadap nilai-nilai noken kini semakin nampak terlihat sehingga kaum muda terutama mahasiswa memunyai peran penting dalam melestarikan nilai dan fungsi dari noken sebagai identitas bangsa Papua.

Ice Adii dalam materinya  “Melestarikan Budaya Noken Sebagai Identitas Bangsa Papua” pada seminar yang selenggarakan kelompok perempuan Papua Peduli Noken di bawah payung Ikatan Pelajar dan Mahasiswa (IPMAPA) Yogyakarta, mengatakan Noken erat kaitannya dengan perempuan Papua pada umumnya.

“Noken dirajut oleh jemari perempuan selain sebagai lambang kehidupan, kesuburan dalam diri perempuan, Ia juga merupakan identitas perempuan Papua,” ungkap Ice Adii di hadapan puluhan mahasiswa Papua yang hadir di Aula Asrama Papua, Sabtu (06/12/2014) sore.

“Di era globalisasi ini kaum perempuan Papua, terutama kita mahasiswa ditantang untuk melestarikan noken sebagai identitas orang Papua,” tambah Ice

Pada kesempatan itu, Adii lebih banyak menyoroti perubahan dan pergeseran terhadap noken akibat tuntutan era globalisasi yang dimanjakan.

Kata dia, masa kini merajut noken lebih instan dan dimanjakan. Berbeda dengan nenek moyang pada masa lalu yang melewati beberapa proses tahapan dimulai dari mengambil bahan dari alam sebelum menjadikannya menjadi sebuah noken.

“Di sini kita ditantang untuk melestarikan identitas kita sebagai bangsa Papua pada era globalisasi sebagaimana dilakukan nenek moyang kita,” kata Adii mengajak.

Orang Papua mesti berbesar hati, merasa gagah karena kita adalah bagian dari noken dan tak dapat dipisahkan. Selain itu, kata dia, mengembalikan noken menjadi budaya Papua yang sesungguhnya perlu dilakukan melalui sekolah, LPK, dan lain-lain.

“Kita sebagai orang Papua mesti bangga dengan noken yang sudah mendunia sehingga perlu juga mewujudkan noken dijadikan sebagai sesuatu yang bernilai ekonomis bagi kelangsungan hidup orang Papua,” jelasnya.

Paskalina Daby, kordinator seminar Perempuan Papua peduli Noken berharap usai seminar peserta termotivasi untuk lebih mencintai noken sebagai identitas bangsa Papua yang harus dilindungi maknanya.

“Awalnya ini merupakan ide pribadi, kemudian saya kumpulkan teman-teman perempuan untuk melakukan sesuatu kegiatan. Syukurlah, kegiatan seminar ini berlangsung dengan baik,” ungkapnya kepada majalahselangkah.com

“Perjuangan untuk melestarikan noken ini tidak harus berhenti di sini, kami ingin melakukan kegiatan lain lagi dengan cara yang lain tapi pada konteks yang sama,” sambung mahasiswi Universitas Sanata Dharma ini.

Presiden mahasiswa Papua di Yogyakarta, Aris Yeimo menyambut baik kegiatan perempuan Papua Peduli Noken. Kata dia, IPMAPA DIY siap memfasilitasi kegiatan yang akan membawa perubahan untuk tanah Papua ke depan.

“Kami (IPMAPA-Red) bangga dengan kegiatan semacam ini, kami siap memfasilitasi kegiatan membangun yang akan membawa dampak positif bagi Papua ke depan,” kata Yeimo.

Selain Ice Adii, ada pemateri lain yaitu Emanuel Gobay. Ia membawakan materi dengan judul, Peringati Hari Noken, Emanuel Gobay : Perlu Proteksi Atas Noken di Papua.(MC2/MS)

 

Sumber : http://www.majalahselangkah.com