Category: Laporan Warga

4 Bupati Ini Akan Diperiksa Kejati Papua

Kajati Papua, E.S Maruli Hutagalung (tengah), didampingi para pejabat Kejati lainnya saat Jumpa Pers di Kantor Kejati Papua. Foto: Dok. MS.

Kajati Papua, E.S Maruli Hutagalung (tengah), didampingi para pejabat Kejati lainnya saat Jumpa Pers di Kantor Kejati Papua. Foto: Dok. MS.

Jayapura,  — Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua mengatakan, empat Bupati di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat  telah menjadi  target penahanan akibat dugaan kasus tindak pidana korupsi.

Mereka adalah  Bupati Kabupaten Waropen Yesaya Buinai. Ia diduga korupsi dana senilai Rp3 milyar di Kabupaten Waropen untuk membayar uang balas jasa tim sukses.

Kemudian, Bupati Biak, Yesaya Sombuk. Yesaya diduda penyalahgunaan dana rehabilitasi 25 ruang kelas di Kabupaten Supiori dari dana APBN dengan nilai proyek Rp10,2 milyar.

Lalu, pelaksana Bupati Mimika, Ausilius You. Ia  tersangka kasus rehabilitasi SMP 3 Timika senilai Rp410 juta. 

Sementara itu, Bupati Maybrat, Bernard Sagrim saat ini ditangani di pengadilan Tipikor, dan sudah dalam tahap tuntutan.

Bagaimana Penahanannya?
Informasi yang dihimpun majalahselangkah.com dari  Kepala Kejaksaan Tinggi Papua, E.S.Maruli Hutagalung,  proses penahanan Bupati Waropen,  Kejati  Papua sudah mengirimkan surat ijin penahanan ke Presiden Republik Indonesia melalui Jaksa Agung.

Pihaknya menunggu izin presiden  untuk penahanan tetapi  Kejati  tetap memastikan, setiap orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi ditahan untuk mempermudah proses pemeriksaan.

Sementara,  Bupati Biak akan diperiksa tanggal 25 Agustus mendatang di Gedung KPK di Jakarta.

Pemeriksaan Pelaksana Bupati Mimika akan dilakukan setelah  Bupati Mimika definitive dilantik oleh Gubernur Papua.

Kemudian,  Bupati Maybrat Bernard Sagrim sudah mulai ditangani di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jayapura dan sudah dalam tahap tuntutan.(GE/HI/003/MS)

 

Sumber : http://majalahselangkah.com/

DISKRIMINASI PELAYANAN PUBLIK TERHADAP PRIBUMI

Sentani,  –Hari Selasa tanggal 05 Agustus 2014 Trigana Air Service No. Penerbangan 277 tujuan Sentani – Wamena Flight ke empat kira-kira jam 14.00 siang WIT dinilai telah melakukan diskriminasi pelayanan publik terhadap warga masyarakat yang hendak penumpangi penerbangan tersebut.

Menurut kesaksian warga calon penumpang resmi maskapai tersebut yang enggan disebutkan identitasnya. Ia mengatakan demikian, di depan para pengurus penerbangan Trigana di Airport Sentani saya bilang dorang.
“Kenapa saya sudah jalan kaki jauh panas-panas dari ruang tunggu bawah anak kecil yang juga ikut jalan kaki panas-panas sampai di depan tangga pesawat baru saya disuruh tidak bisa naik pesawat?” karena katanya menurut mereka ada alasan opersional jadi penerbangan tunda sampai besok. Tapi saya saksikan sendiri di dalam pesawat ada penumpang lain yang sudah siap diberangkatkan ke Wamena.

Bukan hanya itu menurutnya, “saya ini sudah ikut kamu punya peraturan, saya sudah beli tiket sesuai prosedur penerbangan trigana. Kalau memang ada masalah kenapa tidak bilang dari kemarin bahwa besok pesawat tunda.Kenapa orang lain yang naik pesawat tidak dikasi turun baru saya dilarangan naik pesawat dengan kamu punya alasan yang tidak jelas ini?”

Saat beradu argument dengan para pengurus penerbangan Trigana di bawah tangga pesawat warga itu mengaku bahwa ia ditawarkan untuk naik pesawat tetapi anaknya harus dipangku. Warga tersebut malah naik emosinya sambil mengatakan “Oh tidak bisa saya beli tiket untuk dua orang satu untuk saya dan satu untuk anak saya. Dengan harga yang sama masing masing Rp. 925.000. Jadi anak saya punya hak duduk di kursi. Saya juga bayar tiket untuk dua orang ikut kamu punya peraturan baru kenapa sekarang kamu melanggar peraturan yang kamu buat sendiri, ini maksudnya apa?”

Sebegitu para dan nyatakah pelanggaran hak asasi manusia dan atau diskriminasi pribumi dalam mengakses bebagai lini pelayanan publik dibawah terang – benderangnya cahaya mentari OTSUS dengan segala Plus Plusnya? Dimanakah Pemerintah Daerah, Dimanakah MRP? Mungkin kamu orang ada kong kalingkon dengan Trigana jadi masyarakat “kecil” diabaikan?

Mungkin kamu orang ada dapat “bagian lebih” jadi walaupun harga tiket trigana melambung tinggi bagaikan harga tiket Timika – Makasar dan Jakarta kamu rang tutup mata abaikan masyarakat kecil dengan segala jeritan keterbelakangannya meminta keadilan harga pasar, akses pasar, akses layanan publik dan sebagainya?

 

Sumber : http://tabloidjubi.com/

 

TNI-Polri Bakar 2 Gedung Gereja & Sejumlah Rumah Warga Di Kab. Lanny Jaya

Rumah Warga yang dibakar TNI-Polri

Rumah Warga yang dibakar TNI-Polri

Lanny Jaya, 01/08 — Pasca terjadinya penembakan oleh Tentara Pembebasan Nasional Papua West Papua (TPN-WP) beberapa hari lalu, yang menewaskan dua orang anggota Brimob dan satu anggota TNI di Distrik Pirime, Kabupaten Lanny Jaya, Polda Papua beserta Pangdam XVII Cenderawasih menerjunkan sejumlah pasukan tambahan ke Kab. Lanny Jaya, guna melakukan pengejaran terhadap Tentara Pembebasan Nasional West Papua yang ada di Lanny Jaya, seperti yang telah diberitakan oleh beberapa media lokal Papua (www.tabloidjubi.com), dan beberapa media Indonesia.

Penambahan sejumlah pasukan militer Indonesia di Lanny Jaya bertujuan untuk melumpuhkan pergerakan para Pejuang Kemerdekaan West Papua, yang terus bergerilya dengan tujuan mengusir penjajah Indonesia keluar dari wilayah West Papua. Namun nyatanya tujuan penambahan pasukan yang dilakukan oleh Polda Papua dan Pangdam XVII cenderawasih ke Kab. Lanny Jaya, ini justru melakukan tindakan membabi buta terhadap rakyat sipil yang ada di distrik Pirime, Kab. Lanny Jaya.

Dari informasi yang berhasil kami himpun (Pelapor) dari lokasi kejadian menyebutkan bahwa, sejumlah pasukan gabungan (TNI-POLRI) yang diterjunkan ke Distrik Pirime ini, telah membakar sejumlah rumah Rakyat Sipil, dan dua buah Bangunan Gereja, serta berbagai fasilitas umum yang ada di distrik tersebut, yang mengakibatkan trauma bagi warga setempat. Masyarakat sipil yang ada di Distrik Pirime mengungsi dan melarikan diri ke hutan-hutan demi menghindari tindakan membabi buta yang dilakukan oleh TNI-POLRI.

Selanjutnya diinformasikan bahwa, sejak terjadinya kontak senjata antara Militer Indonesia dan Tentara Pembebasan Nasional West Papua pagi tadi hingga malam ini, Jumat, (01/08/2014) TPN-WP berhasil menembak tiga orang anggota Brimob dan satu anggota TNI. Dan ketika kami tanyakan (Pelapor) terkait pemberitaan media Indonesia yang menyebutkan adanya 5 anggota TPN-WP yang ditembak oleh militer Indonesia, Informen TPN-WP membantah pemberitaan tersebut, dan menyatakan bahwa pemberitaan tersebut sangatlah tidak benar, tidak ada anggota TPN-WP yang gugur hingga saat ini, termaksud rakyat kami. (wp)

 

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=721210897960221&set=a.133447716736545.34567.100002139521793&type=1&theater