Category: Gaya Hidup

Era Globalisasi: Kaum Muda Diminta Pertahankan Nilai dan Fungsi Noken Papua

Perempuan Papua Peduli Noken. Tampak pemateri Ice Adii (tengah belakang) dengan pakaian batik Papua warna emas kombinasi hijau berpose usai seminar. Foto: Isline Tabuni

Perempuan Papua Peduli Noken. Tampak pemateri Ice Adii (tengah belakang) dengan pakaian batik Papua warna emas kombinasi hijau berpose usai seminar. Foto: Isline Tabuni

 

Yogyakarta, MAJALAH SELANGKAH — Pergeseran terhadap nilai-nilai noken kini semakin nampak terlihat sehingga kaum muda terutama mahasiswa memunyai peran penting dalam melestarikan nilai dan fungsi dari noken sebagai identitas bangsa Papua.

Ice Adii dalam materinya  “Melestarikan Budaya Noken Sebagai Identitas Bangsa Papua” pada seminar yang selenggarakan kelompok perempuan Papua Peduli Noken di bawah payung Ikatan Pelajar dan Mahasiswa (IPMAPA) Yogyakarta, mengatakan Noken erat kaitannya dengan perempuan Papua pada umumnya.

“Noken dirajut oleh jemari perempuan selain sebagai lambang kehidupan, kesuburan dalam diri perempuan, Ia juga merupakan identitas perempuan Papua,” ungkap Ice Adii di hadapan puluhan mahasiswa Papua yang hadir di Aula Asrama Papua, Sabtu (06/12/2014) sore.

“Di era globalisasi ini kaum perempuan Papua, terutama kita mahasiswa ditantang untuk melestarikan noken sebagai identitas orang Papua,” tambah Ice

Pada kesempatan itu, Adii lebih banyak menyoroti perubahan dan pergeseran terhadap noken akibat tuntutan era globalisasi yang dimanjakan.

Kata dia, masa kini merajut noken lebih instan dan dimanjakan. Berbeda dengan nenek moyang pada masa lalu yang melewati beberapa proses tahapan dimulai dari mengambil bahan dari alam sebelum menjadikannya menjadi sebuah noken.

“Di sini kita ditantang untuk melestarikan identitas kita sebagai bangsa Papua pada era globalisasi sebagaimana dilakukan nenek moyang kita,” kata Adii mengajak.

Orang Papua mesti berbesar hati, merasa gagah karena kita adalah bagian dari noken dan tak dapat dipisahkan. Selain itu, kata dia, mengembalikan noken menjadi budaya Papua yang sesungguhnya perlu dilakukan melalui sekolah, LPK, dan lain-lain.

“Kita sebagai orang Papua mesti bangga dengan noken yang sudah mendunia sehingga perlu juga mewujudkan noken dijadikan sebagai sesuatu yang bernilai ekonomis bagi kelangsungan hidup orang Papua,” jelasnya.

Paskalina Daby, kordinator seminar Perempuan Papua peduli Noken berharap usai seminar peserta termotivasi untuk lebih mencintai noken sebagai identitas bangsa Papua yang harus dilindungi maknanya.

“Awalnya ini merupakan ide pribadi, kemudian saya kumpulkan teman-teman perempuan untuk melakukan sesuatu kegiatan. Syukurlah, kegiatan seminar ini berlangsung dengan baik,” ungkapnya kepada majalahselangkah.com

“Perjuangan untuk melestarikan noken ini tidak harus berhenti di sini, kami ingin melakukan kegiatan lain lagi dengan cara yang lain tapi pada konteks yang sama,” sambung mahasiswi Universitas Sanata Dharma ini.

Presiden mahasiswa Papua di Yogyakarta, Aris Yeimo menyambut baik kegiatan perempuan Papua Peduli Noken. Kata dia, IPMAPA DIY siap memfasilitasi kegiatan yang akan membawa perubahan untuk tanah Papua ke depan.

“Kami (IPMAPA-Red) bangga dengan kegiatan semacam ini, kami siap memfasilitasi kegiatan membangun yang akan membawa dampak positif bagi Papua ke depan,” kata Yeimo.

Selain Ice Adii, ada pemateri lain yaitu Emanuel Gobay. Ia membawakan materi dengan judul, Peringati Hari Noken, Emanuel Gobay : Perlu Proteksi Atas Noken di Papua.(MC2/MS)

 

Sumber : http://www.majalahselangkah.com

Peringati Hari Noken, Emanuel Gobay: Perlu Proteksi Atas Noken di Papua

Seminar Hari Noken. Tampak kedua pemateri serta moderator. Foto: Isline Tabuni.

Seminar Hari Noken. Tampak kedua pemateri serta moderator. Foto: Isline Tabuni.

 

Yogyakarta,  — Emanuel Gobai, sarjana bidang Hukum yang kini menjadi penasehat hukum bagi mahasiswa Papua di Yogyakarta ini menjelaskan, perlu ada proteksi melalui hukum atass noken sebagai warisan budaya tak benda.

Hal ini diungkapkannya saat memberikan materi dalam seminar mengenai Noken bertema, “Mari Melestarikan Noken Sebagai Identitas Bangsa Papua,” yang dibuat untuk memperingati hari Noken, 4 Desember 2014.

Seminar ini diselenggarakan kelompok perempuan Papua yang bernaung di bawah organisasi Ikatan Pelajar dan Mahasiswa (Ipma) Papua Yogyakarta, Sabtu (06/12), di Aula Asrama Papua.

Dalam paparan materinya, Gobay menawarkan beberapa poin yang perlu diperhatikan serius.

Pertama, dirasa perlu untuk segera mendorong adanya aturan hukum (Perda/Pergub/Perwal/Perbub, dll) tentang perlindungan Noken dan pengrajin Noken di Seluruh Papua.

Kedua, mendata jenis dan model noken yang dihasilkan oleh para pengrajin diseluruh tanah Papua.

Ketiga, mendorong dipantenkannya Noken sebagai hak bangsa Papua.
Keempat, mendorong pembentukan organisasi terpadu pengrajin Noken di seluruh tanah Papua secara permanen.

Kelima, mendorong adanya tempat penjualan noken diseluruh tanah Papua.
Keenam, mendorong adanya pelajaran Noken yang diajarkan disetiap sekolah dari SD hingga SMA sebagai pelajaran muatan lokal wajib di Papua.

Ketujuh, mendorong adanya Sekolah Noken (non formal) untuk melestarsikan & menyediakan tenaga guru pelajaran noken.

Sementara itu, Gobay juga menekankan pentingnya pemaknaan atas noken sebagai dasar yang menjadi pedoman refleksi untuk berusaha keluar dari multimasalah di Papua.

Selain Gobai, ada Ice Adii. Ia membawa materi dengan judul, Melestarikan Budaya Noken Sebagai Identitas Bangsa Papua. (BT/MS)

 

Sumber : http://www.majalahselangkah.com

Awas, Antibiotik Bisa Bikin Anak Obesitas

telegraph/ilustrasi.

telegraph/ilustrasi.

 

Media Papua,   –Hampir semua orangtua pusing tujuh keliling jika anak sakit.Hal itu bisa sedikit lega jika orangtua periksakan anak ke dokter dan anak minum obat, termasuk antibiotik.

Herannya, banyak orangtua justru santai saja jika dokter memberikan antibiotik. Mereka beranggapan dengan antibiotik, sakit anak segera sembuh.

Padahal, enggak juga tuh! Terlalu sering mengonsumsi antibiotik justru berdampak buruk, salah satunya, memicu kelebihan berat badan.

Penelitian terbaru menemukan, pemakaian antibiotik yang terlalu sering, terutama pada anak usia di bawah 2 tahun, ditengarai menjadi salah satu penyebab kelebihan berat badan, bahkan obesitas. Hasil penelitian ini diungkap pakar bakteri dari India, Satya Swarama, di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dikatakan bahwa penggunaan antibiotik yang terlalu sering memiliki efek negatif terhadap keseimbangan bakteri baik di dalam usus. Hal ini bisa membuat sistem metabolisme terganggu, penyerapan makanan tidak sempurna, dan diyakini dapat membuat anak mengalami kegemukan.

Menurut dr.Ahmad Fuady, Msc, antibiotik memang dicurigai sebagai salah satu faktor yang menyebabkan obesitas pada anak-anak. Terutama jika antibiotik diberikan sebelum usia anak mencapai 2 tahun, dengan pemberian antibiotik sekitar 3-5 episode, yakni dalam 2 tahun anak diberikan antibiotik sebanyak 3-5 kali.

Misalnya, Januari sakit, anak diberi antibiotik untuk konsumsi seminggu. Lalu Mei sakit lagi dan diberi antibiotik selama seminggu. Agustus pun sakit lagi, kemungkinan akan diberi obat dari jenis yang sama. Nah, pemberian 3 episode ini yang dapat memicu kelebihan berat badan pada anak.

Jenis antibiotik yang dianggap beresiko menimbulkan obesitas adalahantibiotik spektrum luas, yakni antibiotik yang digunakan untuk mengatasi berbagai jenis bakteri, seperti antibiotik jenis tetrasiklin yang efektif terhadap bakteri gram positif maupun bakteri gram negatif. Artinya, ini bukan jenis antibiotik spektrum sempit yang khusus ditujukan untuk jenis bakteri tertentu.

Pemberian antibiotik spektrum luas akan membuat seluruh bakteri yang ada dalam tubuh mati, termasuk bakteri baik yang ada di dalam usus. Sementara antibiotik spektrum sempit, misalnya antibiotik untuk penyakit paru, yang dituju umumnya hanya bakteri yang menginfeksi paru-paru seperti pneumokokus penumoniae.

Namun, kita juga perlu memahami bahwa tak hanya antibiotik yang dapat memicu kegemukan. Penyebab kegemukan itu multifaktor, seperti faktor genetik dari orangtua, konsumsi makanan karbohidrat dan lemak tinggi, kurang bergerak atau berolahraga.

Yang terpenting adalah kita bijak menggunakan antibiotik. Dokter seharusnya tidak begitu mudah meresepkan antibiotik dan orangtua tidak menuntut untuk diresepkan antibiotik jika tak dibutuhkan. Pembelian antibiotik secara bebas di toko obat pun sebaiknya tak dilakukan. Misalnya antibiotik amoxicillin (spektrum luas) sering ditemukan di toko obat.(Media Papua/ tribunnews.com)